MBG di Tomohon Dorong Kualitas Generasi Muda dan Dampak Positif bagi Masyarakat Lokal
Gizi seimbang dan tepat merupakan kunci mendasar dalam sebagai langkah utama untuk mencetak generasi
Banyak yang menganggap kebahagiaan wanita akan sangat sulit diukur. Karena ada beberapa sumber kebahagiaan para wanita, misalnya uang dan makanan. Tapi, saat ini ada cara untuk mengukurnya berdasar dari hasil penelitian para ahli.
Mengutip Webmd.com, para peneliti melakukan pengukuran tingkat kebahagiaan para wanita dengan metode 'rekonstruksi hari'. Itu dirancang untuk menilai bagaimana para wanita menghabiskan waktu dan apa yang dirasakannya saat menjalani aktivitas.
Sebanyak 900 wanita menjadi subjek penelitian. Mereka diminta menjawab demografis umum lalu diminta untuk membuat buku harian singkat mengenai pengalaman mereka menjalani hari sebelumnya. Para wanita diminta membayangkan hari yang mereka lalui layaknya sebuah film yang berisi adegan dan episode.
Dari setiap episode yang ditulis di buku harian tersebut, para wanita akan mendapat pertanyaan mengenai siapa teman aktivitasnya dan bagaimana perasaan ketika itu.
Hasil Penelitian
Hasil dari penelitian tersebut mengungkapkan jika sumber kebahagiaan para wanita sekarang ini sangat beragam. Mulai dari hubungan seksual, bersosialisasi, meditasi, makan, olahraga, hingga nonton televisi.
Tidak cuma sumber kebahagiaan yang diumumkan. Dari penelitian ini diketahui pula apa yang paling tidak disukai oleh mereka. Di antaranya adalah aktivitas perjalanan pergi dan pulang kerja dan melakukan pekerjaan rumah tangga.
Menjalin interaksi dengan teman adalah hal yang paling menyenangkan bagi para wanita. Tingkatnya lebih menyenangkan dibanding interaksi dengan saudara, pasangan, atau anak-anak.
Hasil itu cukup mengejutkan, karena selama ini banyak yang menganggap kegiatan menyenangkan para wanita adalah berinteraksi dengan anak-anak. Tapi hasil penelitian berbicara para wanita menganggap merawat anak itu tidak selalu menyenangkan.
"Saat bertanya seberapa senang mereka menghabiskan waktu bersama anak-anak, mereka memikirkan semua hal menyenangkan, seperti membacakan cerita atau pergi ke kebun binatang. Tapi ada anggapan lain yang mengganggu mereka," ujar Norbert Schwarz, peneliti dari University of Michigan.