MBG di Tomohon Dorong Kualitas Generasi Muda dan Dampak Positif bagi Masyarakat Lokal
Gizi seimbang dan tepat merupakan kunci mendasar dalam sebagai langkah utama untuk mencetak generasi
Elon Musk, CEO Tesla, terkenal sering men-tweet. Namun, ia tidak mengunggah apa pun selama lebih dari 48 jam dan menimbulkan kekhawatiran tentang kesehatannya.
Hal ini bukan pilihan Musk untuk menjauh dari Twitter. Ia mengunjungi negara tempat platform itu dilarang. Musk saat ini berada di China dan menahan diri untuk tidak mencuit apa pun sejak kedatangannya, karena aplikasi tersebut tidak dapat diakses di negara tersebut.
Platform Media Sosial Asing Dilarang di China
Seperti diketahui, kala Musk membeli Twitter ia menjadikannya catatan pribadi. Perlu dicatat bahwa China telah melarang banyak platform media sosial asing seperti Twitter dan Facebook.
Meskipun media sosial dan situs web berita tertentu dilarang di China, orang dapat mengaksesnya menggunakan jaringan pribadi virtual (VPN).
VPN menciptakan koneksi yang aman dan terenkripsi, memungkinkan pengguna melewati tindakan sensor China. Meskipun penggunaan pribadi VPN secara teknis ilegal di China, penerapannya berbeda-beda, dan banyak orang di negara tersebut masih menggunakan layanan tersebut.
Dikutip dari IndiaToday, keheningan Musk yang tidak biasa di Twitter membuat beberapa pengguna berspekulasi tentang alasan di baliknya. Beberapa menyatakan bahwa ia mungkin mengalami kesulitan dalam menyiapkan VPN, sementara yang lain percaya ia mungkin tidak sesuai dengan situasi tersebut.
Perlu dicatat bahwa jadwal Musk cukup padat, termasuk pertemuan dengan staf pabrik Tesla di Shanghai pada Rabu malam.
Sesuai laporan, Musk mengadakan pertemuan dengan pejabat pemerintah dan pemimpin bisnis lokal di China. Ia menekankan keterkaitan China dan Amerika Serikat (AS). Ia menyatakan bahwa Tesla menentang gagasan untuk memisahkan diri dari China dan berkomitmen untuk memperluas kehadirannya di negara tersebut.
Musk kemungkinan akan memperluas kehadiran Tesla di China. Pabrik perusahaan di Shanghai adalah satu-satunya pabrik di luar AS, dan menghasilkan sekitar setengah dari produksi global Tesla.
Namun, Tesla menghadapi persaingan yang semakin ketat dari pembuat kendaraan listrik China, seperti BYD dan Geely. Dengan bertemu dengan pejabat pemerintah China dan pemimpin bisnis, Musk berharap dapat mengamankan posisi jangka panjang Tesla di pasar China.(*)