Kartini Media
Ilustrasi seorang perempuan pasarkan produk secara live streaming. Foto: Freepik

Influencer Meredup Muncul Social Commerce, Banyak Diincar

Jualan dengan menggelar live streaming mulai ramai di media sosial. Namun, ada pergeseran tren, yakni host yang biasanya berasal dari kalangan influencer mulai ditinggalkan.

Influencer Mulai Tergeser

Banyak perusahaan memilih menggunakan karyawan biasa atau karakter host virtual untuk mempromosikan produk saat live berlangsung.

Biasanya, influencer akan menampilkan produk diskon bagi penggemar mereka. Namun, saat ini makin banyak orang mempertanyakan kegunaan menjual produk yang sudah ramai atau hype.

Selain itu, menggunakan influencer menjual produk membuat pendapatan menurun tajam. Belum lagi biaya harus dibayarkan bisa sangat mahal.

Mengutip laporan Nikkei Asia, beberapa sumber mengatakan bahwa biaya yang digelontorkan untuk membayar influencer hampir menguras pendapatan perusahaan.

Beberapa bisnis mengambil keputusan jualan secara live streaming menggunakan karyawan sendiri.

Terjadi pergeseran model penjualan dari menggunakan influencer hingga memakai karyawan sendiri lewat platform media sosial yang disebut social commerce.

Mengenal Social Commerce

Dikutip dari Shopify, social commerce (s-commerce) adalah penggunaan platform media sosial seperti Facebook, Tik Tok maupun Instagram untuk menjajakan dan menjual produk maupun jasa.

Social Commerce menjadi booming karena banyaknya pengguna media sosial. Meski demikian, penggunaan social commerce berbeda dari strategi pemasaran media sosial pada umumnya.

Umumnya dalam strategi pemasaran, media sosial digunakan supaya orang-orang dapat melihat produk atau jasa yang diinginkan. Barulah mereka mengunjungi website untuk berbelanja.

Namun, dengan social commerce, para pengguna media sosial bisa langsung berbelanja di sana. Contohnya seperti live TikTok Shop atau live Instagram Shop.

Pengamat Brand dan Pemasaran Yuswohady menggambarkan belanja di social commerce seperti arisan. Dimana orang membeli produk dari orang-orang yang sudah dikenalnya.

"Artinya kita udah kenal semuanya dan ini adalah komunitas kita. Akun sellernya ini, penjual, akun media sosial ini milik dia. Account-nya di kita (penjual), database-nya di kita, customer-nya juga deket ke kita," jelas Yuswohady dikutip dari detik.com.

Hal ini, kata Yuswohady, dapat membuat pembeli percaya karena yang menjual adalah orang yang dikenalnya. Bahkan menurutnya, untuk membangun brand akan lebih baik dilakukan melalui social commerce.

Pemerintah Berjanji Cegah Penipuan S-Commerce

Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie Setiadi, S.Sos, M.Si mengatakan, pemerintah tidak bisa menghambat kreasi sambil tetap melindungi masyarakat yang berkecimpung dalam bisnis jual beli yang memanfaatkan platform media sosial atau fitur pesan instan (social commerce atau s-commerce).

"Kita mau jaga jangan sampai kreativitas masyarakat terhambat, tapi masyarakat kita juga harus dilindungi, jangan sampai s-commerce jadi ajang penipuan," kata Budi dalam jumpa pers di kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) di Jakarta, Kamis (20/7/2023).

Budi mengatakan, s-commerce adalah fenomena baru dimana media sosial juga digunakan sebagai sarana transaksi jual beli.

Menurut dia, pemerintah akan tetap mengacu kepada perlindungan konsumen guna mencegah aksi penipuan melalui kedok s-commerce.

"Kita lagi kaji fenomena baru ini. Tapi prinsipnya perlindungan terhadap konsumen dan juga menumbuhkan kreativitas masyarakat enggak boleh mati," ucap Budi.

Dengan social commerce, pengguna media sosial tidak cuma merasakan pengalaman bersosialisasi di dunia maya, tapi sekaligus mencari produk yang diinginkan, mencari toko terbaik, memilih dan membeli produk, hingga melakukan transaksi langsung lewat aplikasi media sosial.(*)

Artikel Terkait