Kartini Media
Foto: Shutterstock

Jangan Biarkan Anak Trauma karena Dipaksa Berpuasa

Anak yang belum pubertas tidak diwajibkan untuk berpuasa. Memaksa mereka untuk menjalankan puasa justru bisa menyebabkan trauma. Tuntutan fisik dan mental puasa belum tentu bisa mereka lalui.

Kenangan traumatis anak-anak karena dipaksa berpuasa justru bisa memberi pengaruh kepada suasana hati dan perilaku. Orang tua disarankan untuk lebih peka terhadap masalah makanan dan lingkungan yang nyaman kepada sang anak.

Mengutip Health Collaborative Center (HCC), setidaknya ada empat cara untuk menghindari anak dari trauma ketika dipaksa berpuasa. Berikut kami sajikan untuk lebih lengkapnya:

Jalin Komunikasi

Menjalin komunikasi dengan anak sangatlah penting. Sehingga orang tua bisa mengetahui apa yang dikhawatirkan oleh anak, serta apa yang mereka harapkan. Orang tua dan anak bisa bekerja sama dan memutuskan apakah menjalankan puasa adalah hal yang aman untuk dilakukan sekarang ini.

Merencanakan Makanan

Anak-anak memiliki kebutuhan dan prefensi yang berbeda. Penting untuk membuat rencana makanan yang boleh mereka konsumsi sebelum fajar dan setelah matahari terbenam. Ini akan membantu orang tua memastikan bahwa gizi yang didapatkan anak selama berpuasa terpenuhi.

Libatkan Anak saat Siapkan Makanan

Melibatkan anak untuk turut dalam mempersiapkan makanan saat sahur dan berbuka baik untuk dilakukan. Karena mereka akan merasa lebih terhubung dalam proses dan memberi mereka rasa memiliki atas makanan yang dipilih.

Aktivitas Spiritual

Menjalani puasa di bulan ramadan bisa ditambah dengan aktivitas spiritual lain, seperti membawa Al-Qur'an atau salat. Aktivitas itu yang akan membantu anak dalam mengembangkan pemahaman lebih tentang pentingnya ramadan.

Artikel Terkait