MBG di Tomohon Dorong Kualitas Generasi Muda dan Dampak Positif bagi Masyarakat Lokal
Gizi seimbang dan tepat merupakan kunci mendasar dalam sebagai langkah utama untuk mencetak generasi
Setiap perempuan tentu ingin hidup bahagia dan sejahtera ketika menjalin suatu hubungan dan memasuki jenjang pernikahan.
Namun, tak semua perempuan mau diajak hidup susah setelah menikah. Beberapa orang menganggap ini egois, padahal sebenarnya mencoba utuk realistis.
Realistis adalah cara berpikir yang penuh perhitungan dan sesuai dengan kemampuan, sehingga gagasan yang diajukan bukan hanya angan-angan tapi suatu kenyataan, jelas Marzianti Husnul Tohirah seperti dikutip dari detik.com.
Pembahasan ringan ini diadaptasi dari percakapan para perempuan di media sosial. Mereka mencoba berpikir realistis. Ketika mereka memutuskan untuk menikah perlu persiapan matang baik fisik, mental juga finansial. Mereka tidak mau diajak hidup susah, karena yang mereka inginkan adalah memperjuangkan keadaan bersama menjadi lebih baik.
Keseimbangan antara Cinta dan Materi
Pada dasarnya, perempuan mendambakan pasangan yang mapan dan mandiri. Kalau pasangannya belum mampu hidup mandiri, masih bergantung pada orangtua, maka muncul keraguan apa bisa menghidupi istri dan keluarganya.
Saat ini, membangun kehidupan keluarga tak cukup bermodal cinta. Hidup butuh keseimbangan antara cinta dan kemapanan ekonomi. Ini penting untuk menghindari kegagalan membina rumah tangga karena faktor ekonomi.
Kematangan Sebelum Menikah
Dilansir dari Kompas.com, sebelum memasuki jenjang pernikahan menikah pasangan harus memiliki kematangan. Menurut psikolog Roslina Verauli, M.Psi., Psi, seseorang yang ingin menikah secara psikologis harus independen atau mandiri.
Tingkat kemandirian pertama terkait emosional. Kemandirian tipe ini perlu agar tidak lagi bergantung pada orangtua.
Kriteria kemandirian kedua adalah secara finansial. Ini penting lantaran berkaitan dengan kesejahteraan dalam rumah tangga ke depan. Kemandirian finansial dimaksudkan agar nanti setelah masuk bahtera rumah tangga tidak lagi bergantung pada orangtua.(*)