MBG di Tomohon Dorong Kualitas Generasi Muda dan Dampak Positif bagi Masyarakat Lokal
Gizi seimbang dan tepat merupakan kunci mendasar dalam sebagai langkah utama untuk mencetak generasi
Berperan sebagai ibu kerap dianggap remeh karena pekerjaan yang dilakukan sama setiap hari dan hanya “itu-itu saja”. Pekerjaan rutinnya memasak, membersihkan rumah dan mengurus anak serta suami.
Sekilas, pekerjaan tampak mudah lantaran berulang kali dikerjakan. Namun, ketika dijalani tidak semudah yang dilihat dan dinilai orang lain. Menjalankan peran ibu perlu kesabaran karena sangat berbeda dengan sebelum menikah.
Beragam masalah lambat laun menjadi tumpukan emosi, yang membuat ibu dianggap sebagai mahluk bertaring dan bertanduk dan bisa mengeluarkan amarahnya kapanpun.
Walau begitu, mudah marahnya seorang ibu tidak selalu merupakan kesalahan sang ibu sendiri.
Menurut psikolog, Sri Juwita Kusumawardhani M.Psi, seorang ibu memang membutuhkan apa yang disebut sebagai me time. Ibu yang marah kepada anaknya bukan berarti karena tidak sayang, tetapi kadang karena ibu merasa tertekan dengan tugas sehari-hari. Seorang ibu membutuhkan “me time” saat sudah mulai merasa tegang ataupun cemas.
“Penting memiliki me time atau kegiatan yang menyenangkan bagi ibu, agar ibu tetap bahagia dan bebas stres,” kata Sri Juwita, dikutip dari detik.com.
Amarah Berdampak Gangguan Mental Anak
Menurut psikolog Matthew McKay, PhD seperti dilansir Nakita, memarahi atau bahkan sampai memukul anak ada baiknya dihindari karena bisa menyebabkan gangguan kesehatan mental anak. Ini juga menyebabkan anak memiliki jiwa yang kurang empati di kemudian hari.
Penelitian lain yang diterbitkan di jurnal Child Development, seorang ibu cenderung mengubah cara mendisiplinkan anak ketika buah hatinya sudah tumbuh remaja. Perubahan tersebut bisa mengarah ke lebih mudah marah dan menjadi lebih kasar.
Dari penelitian itu, terungkap bahwa jika seorang ibu memarahi sampai membentak anak sejak mereka berusia 13 tahun atau kurang, maka anak tersebut berisiko besar punya perilaku yang emosional saat tumbuh dewasa kelak.
Lalu, apa cara yang dilakukan untuk meredam emosi seorang ibu?
Berikut ini adalah cara agar ibu bisa mengontrol emosi saat amarah meledak, seperti dikutip dari berbagai sumber:
Tenangkan Diri
Ambil jarak di mana si kecil dalam kondisi aman dan ibu tetap dapat dilihatnya. Jika emosi mau meledak, bisa dititpkan kepada suami, keluarga atau saudara. Lalu, baringkan tubuh dan minum air putih untuk mencegah emosi memuncak dan meledak.
Duduklah dan berlatih tarik napas dalam. Tarik napas menggunakan diafragma, tahan selama 3 detik dan hembuskan, lakukan berulang.
Dampak Amarah
Pertimbangkan dampak yang terjadi jika amarah tidak terkontrol. Hubungan dengan keluarga, saudara, relasi dan yang lainnya dapat merenggang bahkan hancur ketika amarah tidak terkontrol.
Jangan Berlebihan
Sesuatu yang berlebihan tidaklah baik, apalagi emosi berlebihan saat sedang marah. Ketika sedang marah, cobalah untuk tetap tenang dan berpikir dengan jernih.
Berdoa
Berdoa sesuai kepercayaan agar hati menjadi lebih tenang. Berdoa bisa membantu dalam mengontrol emosi.
Waktu yang Tepat
Jangan asal melampiaskan emosi sesaat yang akhirnya akan disesali di kemudian hari.
Mengendalikan emosi berbeda dengan meredam emosi, meredam emosi adalah membatasi diri untuk mengekspresikan perasaan. Meredam emosi malah dapat berakibat buruk bagi kesehatan seperti kegelisahan, gangguan tidur, tegang, tubuh dirasa tidak sehat, bahkan depresi.(*)