MBG di Tomohon Dorong Kualitas Generasi Muda dan Dampak Positif bagi Masyarakat Lokal
Gizi seimbang dan tepat merupakan kunci mendasar dalam sebagai langkah utama untuk mencetak generasi
Akrtis Zoe Levana kembali membintangi sebuah film. Kali ini Zoe mengungkapkan momen terberatnya yang justru jadi pelajaran berharga di film yang berjudul Puang Bos.
Film ‘Puang Bos’ mengangkat tentang budaya pembuatan kapal pinisi yang ada di Makassar, Sulawesi Selatan. Difilm ini, Zoe berperan sebagai Cindy yang harus bekerja ekstra karena harus belajar bahasa dan budaya daerah tersebut.
Diawal-awal Zoe merasa cukup kesulitan sebab Zoe Levana harus mempelajari budaya Makassar. Permasalahannya tentu saja karena Zoe yang terbiasa dengan budaya jawa karena lahir disini.
"Aku harus banyak belajar tentang bahasa dan budaya Makassar. Aku kan kurang tahu budaya Makassar karena orang Jawa kan," ucap Zoe Levana dalam jumpa pers di Kuningan, Jakarta Selatan.
Dengan segala tantangan yang dihadapinya membuat Zoe punya momen yang sulit dilupakan di film ini. Sebab ini adalah pengalaman baru bagi dirinya.
"Jadi aku harus belajar bahasa dan budaya Sulawesi dan ini pengalaman yang menarik. Karena di film ini aku berperan jadi orang Makassar asli. Jadi harus belajar bahasa dan dialeknya juga, termasuk harus belajar menyukai kulinernya," ungkap Zoe.
Meski sudah membintangi beberapa film layar lebar, akrtis muda yang masih berusia 19 tahun itu mengakui tantangan terbatnya adalah belajar bahasa Makassar.
"Tantangan yang paling berat adalah masalah bahasa dan aksen orang Makassar yang benar. Sehingga saat proses reading dan saat proses syuting aku harus pelajari banget agar bisa klop dengan perannya," ungkapnya.
Adapun film ini dibintangi oleh beberapa nama yang sudah menjadi langganan di layara lebar seperti Michelle Ziudith, Ibrahim Risyad, Arif Brata, Pritt Timothy, Gilbert Pattiruhu, Mongol Stres, dan masih banyak lagi.
Film ini mengisahkan tentang pewaris satu-satunya keluarga pembuat kapal Pinisi, Dewa Rucci. Ia tidak mau melanjutkan usaha pembuatan kapal milik Puang Sinar yang merupakan ayahnya.